Berbagai problem bangsa seperti korupsi, kolusi, nepotisme (KKN),
penyalahgunaan wewenang, konflik elit, konflik komunal, teror, krisisis
kepercayaanterhadap lembaga lembaga Negara, birokrasi yang lambat, kemiskinan,
pengangguran, narkoba, tawuran antar pelajar, seks bebas dan lain sebagainya
merupakan akibat dari lemahnya pengalaman Pnancasila dalam kehidupan berbangsa
dan bernegara.
Bangsa ini jatuh dalam
berbagai keterpurukan karena menanggalkan roh dan jati dirinya. Pancasila sudah
lama sekedar menjadi pajangan. Jangankan menjiwai dan mengamalkan nilai-nilai
terkandung di dalamnya, generasi sekarang dengan hapalan pancasila saja terkadang
sudah lupa. Lupa dengan jati dirinya sendiri. Sungguh ironis dan berbahaya.
Majelis Permusyawaran Rakyat
yang gencar melakukan sosialisasi empat pilar berbangsa bernegara patut di
dukung oleh semua pihak. Empat pilar berbangsa dan bernegara, pancasila, UUD
1945, Bhinneka Tunggal Ika dan Ngara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus
menjadi konsumsi wajib setiap generasi bangsa sejak usia dini. Bukan sekedar
hafalan tetapi harus di pahami, di maknai dan di laksanakan dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara.
Semua komponen bangsa
harus aktif menyosialisasikan dan menanamkan nilai-nilai pancasila
dilingkungannya. Organisasi kemsyarakatan (ORMAS) termasuk yang berbasis
keagamaan yang jumlah massanya sangat besar memiliki peran strategis dalam
menyosialisasikan empat pilar termasuk Pancasila kepada masyarakat luas,
terutama jemaahnya yang terbesar di berbagai wilayah Indonesia.
Kajian terhadap
Pancasila sudah dilakukan secara mendalam oleh para pendiri bangsa ini. Tidak ada
pertentangan antara Pancasila dengan agama-agama yang ada di Indonesia.
Pancasila mengandung konsep relegisitas. Konsep yang mengakui adanya kekuatan
gaib yang berpengaruh terhadap kehidupan manusia di luar dirinya. Itulah Tuhan
Yang Maha Esa sebagai causa prima (penyebab yang utama).
Konsep inilah yang
banyak di lupakan anak-anak bangsa saat ini sehingga mereka mengejar harta dan
tahta dengan sesuka hatinya. Menimbun kekayaan dengan cara korupsi,
penyalahgunaan wewenang dan perampasan terhadap hak milik orang lain. Mereka kehilangan
humanisme yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia.
Anak bangsa hari ini
merendahkan dirinya sendiri. Kebebesan berpikir, kebebasan berpendapat dan
menentukan pilihan hidup sebagai ciri humanisme tetap ada tapi disalah gunakan.
Mereka terpenjara denga prilaku yang serakah dan tidak pernah merasa puas
dengan usaha, kerja keras dan rezeki pemberian Tuhan Yang Maha Esa. Banyak diantara
kita yang masih saja berpikir mewariskan harta kepada anak cucu daripada
mewarisi ilmu, moral dan jati diri.
Lembaga-lembaga
pendidikan mulai dari pendidikan usia dini (PAUD) hingga perguruan tinggi harus
memberi pembelajaran dan pengamalan nilai-nilai Pancasila dengan porsi dengan
porsi yang cukup sesuai tingkat usiadan kebutuhannya. Pembelajaran Pancasila sebagi
belief system tentunya bukan sebagai doctrinal yang kemudian menegasikan
aktivitas-aktivitas keagamaan, kebudayaan dan kajian-kajian kritis lainnya.
Pembelajaran Pancasila
harus di orientasikan pada penanaman sikap, prilaku dan tindakan yang sesuai
dengan nilai-nilai Pancasila yang berketuhanan, berkemanusiaan, mengokohkan
persatuan, mengdepankan musyawarah untuk mufakat dan berkeadilan.
Karenanya pembelajaran
agama sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing di lembaga pendidikan
juga tidak dapat dinggap remeh. Itu bagian penting dari upaya implementasi sila
pertama pancasila.
Ummat Islam Indonesia
harus memahami, menjiwai, serta taat dan tunduk dengan ajaran Agamanya. Begitu juga
kristiani, hindu dan budha dengan tetap mengedepankan sikap toleran, moderat
dan seimbang diantara sesamanya. Mereka yang jauh dari agama, bahkan
meninggalkan ajaran agamanya adalah generasi perusak Pancasila.
Sebab jika agama sudah
di tinggalkan maka nafsu keserakahan akan muncul. Prilaku kebinatangan dalam
diri manusia akan menguat dan mendominan. Agamalah yang menjadi
pengendaliannya. Karenanya pendiri bangsa kita menempatkannya pada sila pertama
Pancasila.
Penanaman sikap,
prilaku dan tindakan tentunya butuh keteladanan. Karenanya guru dan para dosen
harus pula terlebih dahulu memahami, menjiwai dan melaksanakan nilai-nilai
Pancasila. Tenaga pendidik yang suka bolos mengajar, suka menilep dana Bantuan Operasional
Sekolah (BOS) dan membebani murid dengan beragai iyuran illegal jelas-jelas
tidak Pncasilais.guru semacam ini tidak akan mampu menyinari alal pikiran dan
kejiwaan siswanya dengan nilai-nilai Pancasila.
Keteladanan para pemimpin
baik pemimpin Formal maupu Nonformal menjadi penting dan strategis sikap,
prilaku dan tindakan kita hari ini akan di contoh generasi kita berikutnya, jika
hari ini kita mencari kekayaan dan kekuasaan dengan cara-cara yang tidak halal
seperti korupsi, generasi kita berikutnya kan melakukan hal yang sama, bahkan
lebih parah lagi.
Mari kita wariskan
kepada anak cucu kita ilmu dan iman yang kuat. Seorang yang memiliki iman yang
kuat dan menjalankan ajaran agamanya denga benar, itulah salah satu cara
menjiwai dan melaksakan sila pertama Pancasila.
Sebab orang yang
ber-iman menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, akan berbuat adil, tidak
otoriter, serta mau bermusyawarah dan menjalin persaudaraan dengan siapapun
sehingga tumbuh persatuan yang kuat.
Bg Agus pancasila hanyalah sebagai semboyan saja di negeriku ini, makasih
BalasHapusBung Sibet, Kenapa bisa?
BalasHapus