Jumat, 28 Desember 2012

Pancasila Menjawab Problem Bangsa

Berbagai problem bangsa seperti korupsi, kolusi, nepotisme (KKN), penyalahgunaan wewenang, konflik elit, konflik komunal, teror, krisisis kepercayaanterhadap lembaga lembaga Negara, birokrasi yang lambat, kemiskinan, pengangguran, narkoba, tawuran antar pelajar, seks bebas dan lain sebagainya merupakan akibat dari lemahnya pengalaman Pnancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bangsa ini jatuh dalam berbagai keterpurukan karena menanggalkan roh dan jati dirinya. Pancasila sudah lama sekedar menjadi pajangan. Jangankan menjiwai dan mengamalkan nilai-nilai terkandung di dalamnya, generasi sekarang dengan hapalan pancasila saja terkadang sudah lupa. Lupa dengan jati dirinya sendiri. Sungguh ironis dan berbahaya.

Majelis Permusyawaran Rakyat yang gencar melakukan sosialisasi empat pilar berbangsa bernegara patut di dukung oleh semua pihak. Empat pilar berbangsa dan bernegara, pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan Ngara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus menjadi konsumsi wajib setiap generasi bangsa sejak usia dini. Bukan sekedar hafalan tetapi harus di pahami, di maknai dan di laksanakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Semua komponen bangsa harus aktif menyosialisasikan dan menanamkan nilai-nilai pancasila dilingkungannya. Organisasi kemsyarakatan (ORMAS) termasuk yang berbasis keagamaan yang jumlah massanya sangat besar memiliki peran strategis dalam menyosialisasikan empat pilar termasuk Pancasila kepada masyarakat luas, terutama jemaahnya yang terbesar di berbagai wilayah Indonesia.

Kajian terhadap Pancasila sudah dilakukan secara mendalam oleh para pendiri bangsa ini. Tidak ada pertentangan antara Pancasila dengan agama-agama yang ada di Indonesia. Pancasila mengandung konsep relegisitas. Konsep yang mengakui adanya kekuatan gaib yang berpengaruh terhadap kehidupan manusia di luar dirinya. Itulah Tuhan Yang Maha Esa sebagai causa prima (penyebab yang utama).

Konsep inilah yang banyak di lupakan anak-anak bangsa saat ini sehingga mereka mengejar harta dan tahta dengan sesuka hatinya. Menimbun kekayaan dengan cara korupsi, penyalahgunaan wewenang dan perampasan terhadap hak milik orang lain. Mereka kehilangan humanisme yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia.

Anak bangsa hari ini merendahkan dirinya sendiri. Kebebesan berpikir, kebebasan berpendapat dan menentukan pilihan hidup sebagai ciri humanisme tetap ada tapi disalah gunakan. Mereka terpenjara denga prilaku yang serakah dan tidak pernah merasa puas dengan usaha, kerja keras dan rezeki pemberian Tuhan Yang Maha Esa. Banyak diantara kita yang masih saja berpikir mewariskan harta kepada anak cucu daripada mewarisi ilmu, moral dan jati diri.

Lembaga-lembaga pendidikan mulai dari pendidikan usia dini (PAUD) hingga perguruan tinggi harus memberi pembelajaran dan pengamalan nilai-nilai Pancasila dengan porsi dengan porsi yang cukup sesuai tingkat usiadan kebutuhannya. Pembelajaran Pancasila sebagi belief system tentunya bukan sebagai doctrinal yang kemudian menegasikan aktivitas-aktivitas keagamaan, kebudayaan dan kajian-kajian kritis lainnya.
Pembelajaran Pancasila harus di orientasikan pada penanaman sikap, prilaku dan tindakan yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila yang berketuhanan, berkemanusiaan, mengokohkan persatuan, mengdepankan musyawarah untuk mufakat dan berkeadilan.

Karenanya pembelajaran agama sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing di lembaga pendidikan juga tidak dapat dinggap remeh. Itu bagian penting dari upaya implementasi sila pertama pancasila.

Ummat Islam Indonesia harus memahami, menjiwai, serta taat dan tunduk dengan ajaran Agamanya. Begitu juga kristiani, hindu dan budha dengan tetap mengedepankan sikap toleran, moderat dan seimbang diantara sesamanya. Mereka yang jauh dari agama, bahkan meninggalkan ajaran agamanya adalah generasi perusak Pancasila.

Sebab jika agama sudah di tinggalkan maka nafsu keserakahan akan muncul. Prilaku kebinatangan dalam diri manusia akan menguat dan mendominan. Agamalah yang menjadi pengendaliannya. Karenanya pendiri bangsa kita menempatkannya pada sila pertama Pancasila.

Penanaman sikap, prilaku dan tindakan tentunya butuh keteladanan. Karenanya guru dan para dosen harus pula terlebih dahulu memahami, menjiwai dan melaksanakan nilai-nilai Pancasila. Tenaga pendidik yang suka bolos mengajar, suka menilep dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan membebani murid dengan beragai iyuran illegal jelas-jelas tidak Pncasilais.guru semacam ini tidak akan mampu menyinari alal pikiran dan kejiwaan siswanya dengan nilai-nilai Pancasila.

Keteladanan para pemimpin baik pemimpin Formal maupu Nonformal menjadi penting dan strategis sikap, prilaku dan tindakan kita hari ini akan di contoh generasi kita berikutnya, jika hari ini kita mencari kekayaan dan kekuasaan dengan cara-cara yang tidak halal seperti korupsi, generasi kita berikutnya kan melakukan hal yang sama, bahkan lebih parah lagi.

Mari kita wariskan kepada anak cucu kita ilmu dan iman yang kuat. Seorang yang memiliki iman yang kuat dan menjalankan ajaran agamanya denga benar, itulah salah satu cara menjiwai dan melaksakan sila pertama Pancasila.

Sebab orang yang ber-iman menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, akan berbuat adil, tidak otoriter, serta mau bermusyawarah dan menjalin persaudaraan dengan siapapun sehingga tumbuh persatuan yang kuat.

By :
Agus Susanto (Anggota DPRD SUMBAR)


2 komentar: