"Sejuta manfaat dan
pengalaman di balik cerita kecil malam itu; antara ada dan tiada, mosi tidak
percaya serta ketika sunnah di wajibkan dan mana yg menjadi prioritas utama”.Tulisan ini kumulai dengan cerita dan diskusi kecil malam itu dengan beberapa tokoh muda dan energik (menurutku), berangkat dari rasa kekecewaan dengan sistem yang ada pada saat sekarang ini di kabupaten tercinta. tulisan ini hanya sedikit analisis pribadi yg masih butuh banyak penguatan secara data yang relevan, kejanggalan yg terjadi membuat hati gundah, tapi melihat fakta inilah realitanya di lapangan
Kabupaten pasaman dengan jumlah 12
kecamatan, 32 nagari dan sedikitnya 300 kampung yang tersebar di pusat dan
pelosok kabupaten pasaman ternyata tidak memiliki kesejahteraan yang merata,
sehingga dari hal ini memunculkan beberapa pertanyaan "APA YANG DIFIKIRKAN
PEMDA UNTUK PASAMAN YANG AKAN DATANG ?, KEMANA RASA KEMANUSIAAN DAN KEPEDULIAN
PEMDA SAAT SEKARANG INI, DENGAN MELIHAT REALITA YANG ADA ? " pertanyaan
ini muncul ketika penulis mndapatkan berita disertai dengan data dan nara
sumber. bahwasanya beberapa kampung/desa yang tersebar diberbagai kecamatan
ternyata di anak tirikan oleh pemda (ketidak pedulian PEMDA). Nah inilah yang
memunculkan mosi tak percaya penulis terhadap PEMDA Pasaman.
Kampung/desa yang tidak tersentuh
LISTRIK, jalan yang masih digenangi lumpur ketika hujan dan bahkan PARAHnya
lagi untuk melanjutkan jenjang pendidikan ke tingkat SLTA harus turun gunung
dengan menempuh perjalanan hingga 50 km. Pemda lebih mengutamakan pembangunan GEDUNG BUPATI yang sepatutnya masih layak
untuk di fungsikan, kemudian pembangunan TROTOAR JALAN yang hampir selesai
penggarapannya dengan performance paduan keramik yang justru menurut penulis sangat
MUBAZIR. Apa sebenarnya yang difikirkan PEMDA ? apakah dengan pembangunan ini
untuk megah-megahan dan wah-wahan dengan membanggakan pasaman telah maju kepada
kabupaten lainnya, atau ingin di puji "wah luar biasa PEMDA PASAMAN
SEKARANG INI memajukan pasaman " yang realitanya "RAKYAT MASIH
MENJERIT KEMANA RAJA DAN WAKIL KAMI".
ada satu kalimat yang perlu kita ingat, " Untuk apa mesjid suatu kaum dibangun dengan megah, sementara masih ada diantara kaum itu yang menangis kelaparan. dan UNtuk apa pusat kota kabupaten indah, sementara RAKYATNYA MASIH MENJERIT DENGAN KETIDAK ADILAN."
Dalam hal ini mudah-mudahan pemda bisa melihat lagi mana yang harus di utamakan diantara wajib dan sunnat secara hukum agama. penulis fikir KESEJAHTERAAN masayarakat dan pencerdasan anak bangsa yang dibunyikan pada alenia ke-4 pembukaan UUD '45 "......untuk memajukan kesejahtraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan...." menjadi prioritas utama dalam mengemban amanah sebagai tulang punggung yang dipilih masyarakat.
ada satu kalimat yang perlu kita ingat, " Untuk apa mesjid suatu kaum dibangun dengan megah, sementara masih ada diantara kaum itu yang menangis kelaparan. dan UNtuk apa pusat kota kabupaten indah, sementara RAKYATNYA MASIH MENJERIT DENGAN KETIDAK ADILAN."
Dalam hal ini mudah-mudahan pemda bisa melihat lagi mana yang harus di utamakan diantara wajib dan sunnat secara hukum agama. penulis fikir KESEJAHTERAAN masayarakat dan pencerdasan anak bangsa yang dibunyikan pada alenia ke-4 pembukaan UUD '45 "......untuk memajukan kesejahtraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan...." menjadi prioritas utama dalam mengemban amanah sebagai tulang punggung yang dipilih masyarakat.
Tulisan ini hanya menjadi catatan kecil bagi penulis, dengan harapan pembaca bisa sedikit memberi ruang hati untuk rakyat yang masih pertolongan kita. Semoga dengan catatan kecil ini ada hikmah yang bisa kita petik, dan terkhusus PEMDA PASAMAN (badan legislatif dan eksekutif) agar mau mengerti akan jeritan para IBU/BAPAK dan ADIK kami.
bung dayat mereka belum paham apa yang di amanatkan oleh kemerdekaan mereka masih sibuk memikirkan kepentingan pribadi dan partai yang mengusung mereka. itulah kondisi pasaman hari ini, mereka lebih suka mencari pengakuan, penghargaan dan cara-cara seperti ini wajib dihilangkan di pasaman tercinta.
BalasHapus